Menu

Mode Gelap
Viking Metro Gelar Nobar Perdana Piala Presiden Gotong-Royong Nobar Piala Dunia di Cagar Budaya OOI Metro Bersama Komunitas Gelar Nobar di Cagar Budaya Chusnunia Minta Kementerian UMKM Perkuat Akses Pelaku UMKM Ke Perbankan Chusnunia : Tumbuhkan Desa Wisata Mandiri untuk Pariwisata Berkelanjutan Chusnunia Usulkan KEK Pariwisata untuk Pesawaran dan Lampung Selatan

Opini

Gotong-Royong Nobar Piala Dunia di Cagar Budaya

badge-check


					Gotong-Royong Nobar Piala Dunia di Cagar Budaya Perbesar

Piala Dunia adalah momentum yang dinantikan para pecinta bola di seluruh dunia, tak terkecuali di Kota Metro. Cagar Budaya selama lima tahun terakhir terus menggelar nonton bareng sebagai upaya menghidupkan cagar budaya sekaligus mengenalkan cagar budaya kepada masyarakat luas. Dokterswoning yang notabene merupakan cagar budaya pertama yang ditetapkan selama dua tahun terakhir mengalami kelesuan. Piala Dunia menjadi momentum untuk kembali bangkit dan menyampaikan pesan bahwa cagar budaya ini belum mati dan terus memberikan dampak.

Jika biasanya cagar budaya didukung oleh produk minuman tertentu untuk menggelar nonton bareng kali ini situsainya berubah. Keterbatasan support tentu membuat nonton bareng menjadi sekedar nonton bareng saja. Dampaknya ekosistem nobar masih terbatas pada penyelanggara nonton bareng dan penontonnya. Sementara ada banyak ekosistem yang semestinya bisa terbentuk mulai dari MC, pemusik, pedagang kecil dan masih banyak lagi.

Pada Piala Dunia kali ini pendekatan yang dilakukan sedikit berbeda dengan tidak mengandalkan pada dukungan pihak swasta. Mimpi untuk mengembangkan ekosistem nonton bareng di cagar budaya adalah bagaimana media nobar tidak lagi terbatas hanya untuk mengaktivasi cagar budaya melainkan mendukung tumbuhnya eksosistem lainnya yakni komunitas dan para pekerja kreatif lainnya. Perlahan MC ditambah, musik-musik pengisi acara dihadirkan,demikian juga dengan door prize yang didapat dari berbagai kalangan.

Minggu ini adalah hari-hari terakhir Piala Dunia yang akan menentukan siapa juara baru. Final Piala Dunia menjadi momentum penerjemahan semangat gotong-royong. Sejak semi final dukungan berbagai kalangan terus mengalir. Penonton terus bertambah menjelang laga-laga akhir Piala Dunia itu sendiri dan cagar budaya kembali hidup kembali.

Di Final Piala Dunia kali ini fenomena gotong-royong semakin menguat. Mulai dari para onthelist yang berinisiatif membuatkan kopi dan membuat spanduk pengumuman nonton bareng. Kolega-kolega yang mengirimkan door prize, bantuan dana untuk penyelenggaraan hingga konsumsi untuk para panitia yang menyiapkan nonton bareng.Singkatnya 2 gelaran nobar selama Piala Dunia ini mengubah semua kebiasaan nobar yang ada sejak beberapa tahun terakhir.

Pertama, kami tidak lagi bergantung atau menggantungkan diri sepenuhnya pada dukungan sponsor swasta. Kedua, partisipasi berbagai kalangan ditumbuhkan dengan mendorong mereka melakukan apa yang bisa dan mungkin mereka lakukan. Dengan demikian keterlibatan publik partisipasi menjadi semakin luas dan membantah bahwa hanya dukungan sponsor yang bisa menggelar sebuah acara.

Hal itu terjadi karena kami menyadari berbagai keterbatasan yang ada baik keterbatasan finansial maupun keterbatasan dukungan dana sponsor membuat kami berpikir lebih keras lagi untuk mengembangkan ekosistem aktivasi cagar budaya itu sendiri. Nobar sendiri menjadi salah satu kegiatan yang mendorong hadirnya cagar budaya yang inklusif dan memberikan dampak kepada masyarakat luas.

Dari Defisit Ke Suprlus

Cagar Budaya sejak dua tahun terakhir sama sekali tidak mendapatkan anggaran dari pemerintah setempat. Jika banyak pihak memilih misu-misuh di media sosial karena dananya dipangkas atau hilang sama sekali, kami memilih untuk berpikir dengan cara baru. Selama beberapa tahun  terakhir cagar budaya selalu memberikan kontribusi pada pemasukan daerah. Ketiadaan anggaran tidak mengubah niat, komitmen dan keyakinan bahwa cagar budaya bila dikelola dengan perspektif yang benar akan menghasilkan dampak yang besar.

Dari 3 gelaran Piala Dunia kami telah mendapatan kesiapan dana untuk menggelar tiga laga berikutnya yakni Piala Presiden dan juga Piala AFF 2026 yang akan menampilkam Tim Nasional kita. Itu artinya dari tak punya dana bisa berkontribusi pada daerah melalui pembayaran retribusi, memberikan manfaat bagi para pekerja kreatif sekaligus para pedagang kecil yang bergantung omsetnya pada keramaian.

Hal tersebut menunjukan bagaimana dari situasi defisit anggaran berubah menjadi surplus angaran. Ketiadaan anggaran tidak boleh membuat kita berhenti bekerja memajukan cagar budaya.Kita harus berpikir dengan cara baru yakni bukan bekerja karena anggaran tapi bekerja dengan melibatkan berbagai kalangan untuk bersama-sama membuat cagar budaya yang lebih baik dan berdampak kepada publik.Gotong-Royong tidak lagi menjadi retorika semata melainkan berwujud dalam praktik nyata.

Bila ada sebagian kecil orang berpikir dengan menghilangkan dukungan anggaran pada cagar budaya maka dengan sendirinya akan berhenti tentu mereka keliru besar. Kami tetap bekerja dan membuktikan bahwa pikiran Anda mencerminkan diri Anda sendiri yang hanya bisa bekerja dan bermanfaat bila ada anggaran. Dan itu bukan Kami.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Begini Tanggapan Chusnunia untuk Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo

16 Agustus 2025 - 12:19 WIB

Chusnunia : Kompetisi Cukup di Pemilu Selebihnya Bersatu Bangun Lampung

5 Agustus 2025 - 10:06 WIB

Sport Tourism, Cara Baru Promosikan Citra Daerah dan Produk Lokal

28 Juli 2025 - 02:00 WIB

Sport City: Dari Lapangan ke Pusat Kota, Olahraga Jadi Gaya Hidup Urban

28 Juli 2025 - 01:55 WIB

Polri untuk Masyarakat

27 Juli 2025 - 13:34 WIB

Trending di Opini