Metro,literatus.id- Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia meminta pemerintah mengambil langkah cepat dan kongkrit guna mengatasi kenaikan harga bahan baku plastik yang telah berdampak nyata kepada industri dan masyarakat.
Kami mendapatkan aspirasi baik dari kalangan pengusaha, para pelaku UMKM dan masyarakat terkait dampak kenaikan harga plastik akibat krisis di Timur Tengah.
Mereka mengeluhkan kenaikan harga bahan baku plastik saat ini sangat berdampak signifikan khususnya terhadap industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) karena hampir seluruh kemasan AMDK menggunakan plastik, terutama polyethylene terephthalate (PET) resin untuk botol, high-density polyethylene (HDPE) untuk galon, serta polypropylene (PP) untuk tutup dan label.
Selain itu para pengusaha juga mengkhawatirkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan sebagai respons dari tekanan biaya yang timbul akibat kenaikan harga bahan baku plastik.
Kenaikan harga plastik juga menurut Chusnunia berdampak kepada para pelaku UMKM karena meningkatkan biaya produksi dan akibatnya harus menekan margin keuntungan. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga plastik pembungkus tercatat melonjak hingga 85 persen, dari sebelumnya sekitar Rp27 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.
“Para pelaku usaha akhirnya tak memiliki pilihan selain menaikkan harga jual produk meski berisiko terhadap omzet karena mempengaruhi daya beli konsumen, para pelaku UMKM khususnya sektor kuliner contohnya cenderung membebankan kenaikan biaya plastik kepada konsumen melalui peningkatan harga produk,”jelasnya.
Ia menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah cepat guna mencari sumber alternatif serta mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan sebagai alternatif sekaligus untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Menurutnya konsisi saat ini menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah untuk mendorong transformasi penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik.
“Kita bersama-sama menghimbau dan mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang sebagai bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor,”tambahnya.
Disamping itu Pihaknya juga meminta pemerintah mempertimbangkan kebijakan Pigovian Tax untuk mengendalikan penggunaan plastik sekaligus mendorong perubahan perilaku konsumen. “ Kebijakan tersebut hendaknya diimbangi dengan pemberian insentif bagi kemasan ramah lingkungan agar perlahan mampu menggantikan plastik,”pungkasnya.










