Jakarta, Literatus.id-Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia menilai fenomena dupe culture yang tumbuh di Gen Z Indoensia harus bisa dioptimalkan menjadi potensi untuk mengembangkan brand lokal dan industri nasional.
Menurutnya Fenomena dupe culture (duplikat) di Indonesia marak di kalangan Gen Z dan milenial didorong oleh media sosial dan keinginan tampil modis dengan harga terjangkau. Ini melibatkan produk “mirip” barang mewah (fashion/skincare) yang menawarkan fungsi serupa dengan harga jauh lebih murah.
“Fenomena membeli barang dupe kini kini justru dianggap pintar daripada sekadar memaksakan diri membeli barang branded, mencerminkan pola pikir konsumen yang lebih selektif pada nilai fungsi,”ungkapnya Senin (30/1/2026)
Ia juga menilai dengan memilih brand lokal secara langsung akan memperkuat kreativitas serta usaha kecil yang punya prinsip, dan ekosistem fashion yang lebih adil dan berkelanjutan. Karya anak-anak muda Indonesia sendiri menurutnya tidak kalah kreatif dari brand-brand dunia.
“Penting untuk kita membedakan antara barang tiruan dan barang KW, produk-produk dupe sejatinya tidak menggunakan logo atau branding merek aslinya dan tidak melanggar hak cipta kita lebih mendorong ke arah paradigma designer inspired,”jelasnya.
Ia mencontohkan praktik yang dilakukan oleh Tiongkok dan Korea Selatan yang pada awal industrialisasi mereka banyak mengamati dan meniru produk dari Jepang maupun Barat, lalu memodifikasinya hingga akhirnya melahirkan inovasi dan brand global sendiri.
“Dalam dunia bisnis, praktik amati, tiru, modifikasi lazim dilakukan sebagai bentuk pembelajaran industri. Selama proses tersebut menghasilkan inovasi baru, bukan sekedar plagiasi,”ujar politisi yang akrab disapa Nunik tersebut
Chusnunia juga menambhkan bahwa fenomena dupe culture ini harusnya bisa dilihat sebagai potensi bagi tumbuhnya brand lokal dan memperkuat industri nasional.
“Budaya imitasi dikalangan Gen Z kita dapat mendorong kreativitas brand lokal untuk berkreatifitas untuk mendorong brand lokal tumbuh menjadi brang global saat ini,”tambahnya.
Selain itu lewat tumbuh dan berkembangnya brand-brand lokal juga diharapkan dapat menstimulasi perkembangan industri nasional yang mendukung keberadaan brand-brand lokal itu sendiri.
“Bila dupe culture ini merangsang tumbunya brand-brand lokal kita yakin hal tersebut juga akan berdampak pada pertumbuhan industri nasional untuk memproduksi bahan baku yang murah,”pungkasnya.











